Showing posts with label Serial Santri. Show all posts
Showing posts with label Serial Santri. Show all posts

Sunday, 30 July 2017

Kisah Santri Dan Perampok

Santri Di Rampok
Bincang Santri - Terima kasih sebelumnya, bagi sobat yang merelakan waktunya hanya sekedar untuk menunggu kelanjutan kisah nyantri seorang santri, bagi yang belum membaca, admin persilahkan untuk membaca terlebih dahulu, agar sobat bisa paham dengan alur cerita di episode kali ini.

perampok

Kisah Santri Dirampok


Sang anak masih terus melanjutkan perjalanan, setiap desa ia lewati, terkadang ia sampai menginap di desa desa.

Yah, karena jarak antara desa surabaya dan gresik begitu jauh, jika di tempuh tanpa menggunakan kendaraan seperti kuda.

Maka butuh 1 minggu untuk sampai di sana.

Sudah 5 hari sang anak telah berjalan menuju peradaban yang akan mengajarkannya di hari esok.

Hingga tibalah sang anak, di persawahan yang begitu luas.

Dia terus berjalan dan terus berjalan menyusuri sawah sawah.

Tapi siapa sangka

Seseorang keluar dari rumput ilalang, dengan mengenakan pakaian hitam serta penutup wajah.

Sudah di pastikan bahwa orang tersebut adalah perampok.

Beberapa detik kemudian, keluar pula temannya dari arah yang berbeda.

Dengan mengenakan pisau dan pakain yang sama, mereka menghampiri sang anak.

Melihat perampok tersebut mendekatinya, tidak nampak wajah wajah ketakutan dari sang anak.

Dia hanya bisa pasrah kepada allah, jika terjadi sesuatu padanya.

Hingga terjadilah percakapan di antara mereka.

Perampok :"Wahai anak muda, apa yang kau bawa itu, hah" dengan bentakan teras.

Masih tidak nampak ketakutan di wajah sang anak.

Anak : "Wahai tuan, apa yang kubawa ini adalah emas beserta lembaran uang"

Mendengar apa yang di ucapkan oleh anak tersebut, sang perampok sedikit tidak mempercainya.

Hingga, perampok tersebut mengambil wadah tempat penyimpanan emas dan uang tersebut.

Dibukanya wadah itu, tidak percaya apa yang dilihatnya, emas dan juga uang seperti yang dikatakan sang anak.

"Kenapa anak ini begitu jujur" pikir perampok.

Perampok : "Wahai anak muda, kenapa engkau berkata jujur kepadaku, banyak sekali orang berbohong demi menyelamatkan hartanya, tapi engkau berbeda, apa yang menyebabkan engkau berkata jujur".

Anak : "Wahai tuan, aku adalah orang yang ingin pergi ke pondok pesantren, menjadi santri disana, sebelum berangkat, aku mendapat pesan oleh ibuku, bahwa dalam keadaan apapun aq tidak boleh berbohong".

Perampok : "Subhanallah, sungguh mulia sekali dirimu nak, aku jadi terharu mendengarnya, kau adalah anak yang berbakti pada orang tua".

Sang perampok mengembalikan barang yang di rampasnya kepada sang anak, seraya berkata :

Perampok : "Kemana tujuanmu nak ?".

Anak : "Pondok pesantren yang ada di gresik tuan".

Perampok : "Baiklah aku akan mengantarkanmu kesana wahai anak muda, jika terjadi sesuatu padamu aku akan melindungimu".

Berangkatlah perampok bersama dengan sang anak menuju pesantren yang berada di berada gresik, untuk menjadi santri disana.

-----
Kembali ke
Episode 1 : Kisah nyantri seorang santri
-----

Dari kisah di atas, kita tau bahwa mempertahankan kejujuran sangatlah penting.

Bukannya terdapat hadist yang artinya.

"Berkatalah jujur meskipun itu pahit".

Banyak kesali hikmah yang dapat kita ambil dari kisah santri ini.


Salah satunya adalah, pentingnya menjaga amanah dari orang tua kita.

Oh iya, kisah santri ini, adalah sebuah kisah yang hampir sama dengan kisah salah satu imam, yakni imam syafii.

Munkin cerita yang saya dengar ini adalah sebuah kisah yang di ambil dari kisah imam syafii.

Yah itulah akhir dari kisah santri dan perampok, jika ada penambahan atau apa saja mohon untuk berkomentar dibawah ini.

Friday, 28 July 2017

Kisah Nyantri Seorang Santri

Pengalaman Nyantri
Bincang Santri - Di kesempatan kali ini, admin akan membagikan sebuah kisah santri yang admin dapatkan dulu dari seorang ustad, yah saat admin masih unyuk unyuk admin senang sekali mendengar cerita (hingga saat ini XD), tak peduli cerita bohong atau nyata, selama itu membuat admin dapat mengambil hikmahnya, admin bersedia untuk mendengarkan cerita tersebut.

nyantri di pesantren

Cerita Nyantri Di Pesantren


Baiklah, tak perlu berlama lama, akan admin ceritakan bagaimana kronologi seorang anak yang mau nyantri di pondok pesantren.

Di suatu desa, sebut saja desa tersebut adalah desa surabaya (nama hanya untuk memudahkan dalam mengingat).

Di desa tersebut, hiduplah seorang anak beserta ibunya, mereka berdua hidup didalam rumah kecil beralaskan bambu.

Sang anak tak pernah mengerti bagaimana rupa ayahnya, karena ayahnya meninggal saat ia masih bayi.

Sang ibu yang mendidik putranya sejak kecil tanpa kasih sayang sang bapak, merasa iba dengan sang anak.

Hari hari mereka lewati bersama, suka duka mereka alami berdua.

Hingga suatu hari sang ibu berkata pada anaknya.

Ibu : "Besok lusa, pergilah ke desa gresik, carilah ilmu disana, belajarlah pada seorang kyai"

Anak : "Maksud ibu, aku harus mondok?"

Ibu : "Iya nak, nyantrilah di desa tersebut, belajarlah pada ulama disana"

Anak : "Baik bu"

Sang anak tak membantah perintah dari ibunya.

Dia manggut manggut penuh kekhidmatan.

Sang ibu memang tau, bahwa di desa gresik terdapat ulama ulama terkenal akan kezuhudannya, hingga gresik terkenal dengan sebutan desa / kota santri.


Oleh karena itu sang ibu menyarankan putranya untuk nyantri di pondok pesantren di gresik.

Tibalah dimana sang anak akan berangkat.

Ibu : "Nak, ibu hanya mempunyai ini, untuk bekal hidupmu selama ada disana"

Sang ibu memberikan sebuah perhiasan dari maharnya sang bapak beserta lembaran uang.

Anak : "Loh bu, bukannya ini barang beharga ibu"

Ibu : "Tak apa, ibu sangat senang jika perhiasan itu bisa berguna untukmu nak"

Ibu : "Pesan ibu, hanya satu padamu nak"

Anak : "Apa bu?"

Ibu : "Jujurlah dalam setiap keadaan apapun nak, karena dengan kejujuran akan bisa membawamu dalam keselamatan"

Anak : "Enggeh bu" Sambil manggut manggut.

Setelah semua persiapan telah selesai, sang anak menyalami ibu serta memeluknya erat erat, dengan m
tetucapnya salam, akhirnya keduanya pun berpisah.

Sang anak pergi meninggalkan rumah, kenangan, serta ibunya.

Semua itu ia lakukan untuk mencari ilmu di desa gresik, dan nyantri pada ulama disana.

(Bersambung)

-----
Lanjut Ke
Episode 2 : Kisah santri dan perampok

Karena alur ceritanya panjang, admin akan membagi kisah ini menjadi 2 episode, tetap pantau terus agar bisa mengikuti alur cerita ini.

Itulah kisah nyantri seorang santri, jika ada penambahan atau apa saja mohon untuk berkomentar di bawah ini.

Friday, 30 June 2017

Temu Santri

Bertemu Dengan Para Santri
Bincang Santri - Setelah mengetahui rencana dari santri teroris pada episode ke 7, lantas apa yang akan terjadi pada episode kali ini ?, apakah ada sebuah keajiaban atau malah rencana mereka benar benar berhasil ? mari kita baca bersama sama episode ke 8 ini.

temu alumni santri

Pertemuan santri


[Sekitar area olo dadi]

Suara adzan terdengar dari kejauhan, soim menoleh ke jam tangan yang berada di pergelangan tangan kanannya, tampak jarum pendek menunjuk ke arah angka 3.

Soim : "Kang, sudah asyar, sebaiknya kita berhenti dulu untuk melakukan sholat terakhir kita"
Saiful : "Baik im"

Mereka berdua berhenti tepat di depan musholla yang berada di pinggir jalan, keduanya melakukan sholat berjamaah bersama.

Rukun terakhir telah usai, saiful yang menjadi imam, mengadahkan wajahnya ke atas sambil berucap :

" Ya allah, ridhoilah apa yang akan kami lakukan ini, sebagaimana murkamu terhadap orang orang yag dzalim, jika memang ada perjuangan yang masih belum kami tuntaskan, selamatkanlah kami agar kami bisa menjalankannya esok"

"Amiin" Soim mengaminkan doa saiful

Setelah melaksanakan sholat berjamaah keduanyapun melanjutkan perjalanan menuju tempat paling maksiat di daerah itu.

(16.30 - Olo dadi)

Suasana masih terlihat ramai meskipun hari semakin gelap, seperti apa yang telah di jelaskan oleh kapten, puncak dari keramain pada waktu setelah sholat maghrib.

Dengan mengenakan pakaian yang hampir sama persis dengan orang orang, mereka berdua menuju ke tempat pertemuan.

Mereka menyusuri jalan jalan dengan menggandeng sebuah tas kecil, nampak sesekali wanita menggoda mereka.

Wanita : "Mas yang bawa tas, masuk ke sini dong, kita main main"

Saiful : "Terima kasih mba, tadi sudah kesana"

Wanita : "Aaah, tapi yang disini belum mas"

Saiful hanya tersenyum melihat wanita yang menggodanya dan pergi dengan menghiraukannya.

Tempat pertemuan masih berada jauh di depan mereka, rumah rumah beserta lampu dan wanita indahnya menghiasi rumah rumah tersebut.

Wanita dengan pakaian minim berkeliaran mencari mangsa, selain itu ada juga beberapa lelaki yang menghampiri para wanita tersebut.

Mereka saling bercakap cakap, dilihat dari ekspresi wajah para wanita, sepertinya terjadi sebuah penawaran di antara mereka.

Minuman yang di haramkan oleh agama islam sudah menjadi air putih bagi penduduk disana, tanpa memperdulikan agama yang mereka anut, dengan mudahnya mereka menjual barang haram tersebut.

Saiful dan soim masih terus berjalan, semakin kedalam semakin banyak pula orang orang berkeliaran.

Sebagian orang mengatakan bahwa tarif di kedalaman area olo dadi lebih mahal, semakin kedalam samakin bagus service yang di dapat, baik wanita tempat dan juga sandang pangan.

-----

Mereka berdua telah sampai di tempat pertemuan, hanya ada 2 orang yang menanti mereka, sang kapten, sang pengatur serangan tidak nampak di antara mereka.

Saiful dan Soim : "Assalamualaikum"

Teroris 2 dan 3 : "Walaikum salam

Soim : "Dimana kapten ?" tanya soim

Teroris 2 : "Dari tadi kami berdua menunggu beliau, kami kira bersama kalian"

Soim : "Tidak kang"

Teroris 2 : "Lantas kemanakah beliau ?"

Semua saling pandang satu sama lain, soim melihat jam di tangannya, tinggal 30 menit lagi sebelum adzan maghrib terdengar oleh mereka semua, seharusnya sang kapten berada di antara mereka, tapi hingga saat ini sang kapten belum juga datang.

Apa yang terjadi dengan kapten ? akankah rencana mereka di tunda ? jawabannya akan hadir di episode selanjutnya

(Bersambung)

-----

Kembali ke

Episode 2 : Terorisme pesantren


Episode 4 : Jalan sang santri


Episode 6 : Amanah sang kyai


Lanjut ke
Episode 9 : (Next Time)

Itulah episode 8 kisah dari serial cinta seorang santri dengan judul temu santri, jika ada penambahan atau apa saja mohon untuk berkomentar di bawah ini yaa :).

Monday, 19 June 2017

Rencana Santri Teroris

Rencana Santri
Bincang Santri - Hai sobat, gimana kabar kalian, semoga sobat baik baik saja ya, dan semoga di 5 malam terakhir bulan ramadhan ini kita semua mendapatkan lailatur qadar (amiin), terlepas dari itu semua admin ingin melanjutkan kisah cinta seorang santri pesantren episode ke 7 dengan judul rencana santri teroris.

santri teroris

Rencana Para Santri Teroris


(5 Hari Sebelumnya - Kediaman kyai)

Meja dan 8 kursi tertata rapi, beberapa orang menyiapkan berkas berkas yang di perlukan, hanya tinggal beberapa jam lagi rapat besar bagi mereka akan segera di mulai.

-----

"Oke semuanya telah berkumpul" orang yang di kenal sebagai teroris 1 membuka suara.

"Assalamualaikum wr wb" lanjut teroris 1

"Walaikum salam wr wb" jawab peserta rapat secara serentak

Teroris 1 : "Seperti yang telah kita sepakati bersama, hari kita akan membahas mengenai konsep penyerangan terhadap tempat maksiat bernama olo dadi"

Teroris 1 : "Dari namanya saja kita tau, bahwa tempat tersebut memang di buat untuk kejelekan, oleh karena itu kita wajib memusnahkannya"

Teroris 1 : "Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, TAKBIR !!!"

Peserta rapat : "Allahu akbar, Allahu akbar, allahu akbar"

Hanya beberapa menit sejak rapat dimulai, keadaan semakin panas, teroris 1 memang di kenal sebagai orang yang bisa mengobarkan jiwa temannya, karena kelebihan itulah dia terpilih menjadi kapten.

Teroris 1 : "Sebelumnya aku telah menganalisa tempat tujuan kita, dari situlah akhirnya aku menemukan konsep konsep penyerangan kali ini"

Teroris 1 : "1. Tempat maksiat "olo dadi" itu luasnya 5 hektar, kalau 1 - 2 teroris yang beraksi, kerusakan yang didapatpun kecil sekali, dan mereka bisa membangunnya kembali"

Teroris 1 : "Bukannya kita sudah tau, bahwa kejelekan harus dimusnahkan sampai ke akar akarnya ?, oleh karena itu, dibutuhkan setidaknya 5 orang dan untuk saat ini hanya tinggal 2 orang saja"

Teroris 1 : "Adakah di antara kalian yang mau ikut bersamaku untuk ber jihad fii sabillah ?"

Peserta rapat saling menoleh satu sama lain, begitu pula yang di lakukan oleh soim dan saiful, mereka berdua memandang dengan penuh keyakinan, dan mengangguk arti pengabdian.

Soim dan saiful : "Saya ikut pak !!"

Teroris 1 tersenyum, namun tidak bagi seorang tua renta yang ikut menyaksikan keberanian mereka berdua.

Kyai : "Soim, saiful apakah kalian benar benar yakin?" tanya pak kyai

Soim : "Saya sudah mantap kyai, saya akan mengabdikan diri saya dengan jalan ini, kalau saiful saya tidak tau yai"

Saiful : "Alasan saya juga sama seperti soim yai, kita berdua sudah mantab untuk melakukannya"

Kyai : "Kalian masih muda, masih punya banyak waktu, apa kalian tidak merasa rugi ?"

Saiful : "Untuk apa saya rugi kalau demi kepentingan agama".

Kyai : "Subhanallah, baiklah, saya tidak berhak untuk memutuskan, tapi saya bangga punya santri seperti kalian berdua ini".

Soim dan saiful : "Terima kasih yai"

Teroris 1 : "Baiklah sudah di tetapkan, kekosongan saat ini sudah di isi oleh saudara kita saiful dan soim, semoga kalian berdua mendapat derajat tinggi di hadapan allah"

"Amiin" jawab mereka berdua secara bersamaan

Teroris 1 : "Baiklah kita lanjut, untuk yang ke 2, pada waktu menjelang maghrib, "olo dadi" begitu ramai, disaat itulah kita akan beraksi, tepat sebelum sholat maghrib"

Teroris 1 : "Sebelumnya, kita berlima akan berkumpul sejenak terlebih dahulu di sebuah titik kumpul di olo dadi, setelah itu kita berlima akan berpencar ke daerah masing masing"

Teroris 1 : "Untuk lebih jelasnya perhatikan peta ini"

Teroris 1 menunjukkan sebuah peta lokasi titik penyerangan kepada para peserta rapat

sarang maksiat

Teroris 1 : "Apakah kalian semua paham ?"

Peserta rapat : "Paham pak !!"

Teroris 1 : "Untuk yang ke 3, saya tidak menjamin keselamatan kalian, karena kerusakan yang akan kita buat adalah kerusakan yang sangat parah, bisa jadi kita menjadi korbannya juga, kemungkinan kita bisa kembali hidup hidup adalah 25℅"

Teroris 1 : "Setelah mendengar ini, apakah kalian berempat masih tegak akan pendirian ? atau mundur ?"

Soim  : "Saya siap jiwa dan raga untuk agama islam !!"
Saiful : "Saya juga !!"

Teroris 2 dan 3 : "Kami berdua juga siap pak !!"

Teroris 1 : "Baguslah, dengan ini saya nyatakan rapat berakhir, semoga apa yang kita harapkan menjadi nyata, dan penyerangan kali semoga saja bisa membuka hati para manusia manusia yang mengaku islam, pak yai mohon pimpin doa"

Pak yai mendoakan agar mereka yang akan menjalankan tugas di beri keselamatan dan agar rencana mereka berhasil sesuai harapan.

Bagaimana kelanjutannya, apakah aksi teroris teroris tersebut berhasil ? adakah yang selamat ? kita tunggu saja kelanjutannya :)

(Bersambung)

-----

Kembali ke

Episode 2 : Terorisme pesantren


Episode 4 : Jalan sang santri


Episode 6 : Amanah sang kyai

Lanjut ke
Episode 8 : Temu santri

Itulah episode 7 dari serial cinta seorang santri, jika ada penambahan atau apa saja mohon untuk berkomentar di bawah ini :)

Saturday, 3 June 2017

Amanah Sang Kyai

Amanah Kyai
Bincang Santri - Sudah 2 jam lamanya sejak mereka berdua duduk bersama, menanti jawaban dari seorang santri yang bernama ahmad, karena jawabannya lah yang menentukan puluhan hingga ratusan nyawa orang orang, tapi tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, ruangan nampak sunyi, kalaupun ada suara, itu hanya sebatas detingan dari jam dinding.

amanah kyai

"Baiklah kalau itu jawabanmu" pak polisi membuka suara untuk pertama kalinya.

Ahmad semakin tertunduk.

Tak tahan dengan pendirian ahmad yang begitu kuat, akhirnya polisi tersebut meninggalkan ahmad sendirian dalam ruangan.

-----

"Apakah ada informasi terbaru dari kasus ini" tanya polisi

"Maaf pak, kami tak menemukan info yang bapak cari" polisi berpangkat rendah menjawabnya.

Polisi : "Baiklah kalau begitu, kita harus cepat cepat menemukan markas mereka"
Polisi Rendah : "Maaf pak, bagaimana dengan info dari santri itu"
Polisi : "Dia masih tetap teguh dengan pendiriannya, dia tak dapat diandalkan sama sekali"
Polisi Rendah : "Lantas apa yang mesti kita lakukan terhadapnya"
Polisi : "Bawa dia masuk ke sel, semoga saja dia berubah pikiran"
Polisi Rendah : "Siap pak"

-----

Di suatu tempat, di mana kemaksiatan merajarela, laki laki dan perempuan berhamburan tanpa ada penghalang sama sekali.

Sejauh mata memandang wanita berkeliaran dengan mengenakan pakain yang tak pantas, tanpa merasa malu sebagian masyarakat sekitar menyebutnya dengan sebutan "olo dadi"

Tempat prostitusi terbesar di kota "bulo", ada pula yang mengatakan bahwa "olo dadi" adalah surganya para lelaki, entah mengapa tempat itu selalu lolos dari razia pemerintah, entahlah.

Kebanyakan penduduk sekitar bekerja di tempat itu, karena daya tarik yang begitu besar, hingga mendatangkan clien atau pelanggan dari luar kota hingga mancanegara.

Tak tanggung tanggung, pendapatan dari kota tersebut hampir setara dengan pendapatan ibu kota.

Tak heran bila, banyak warga dari kota tetangga berhijrah untuk mengais rezeki disana, karena di zaman seperti ini, susah untuk mencari rezeki yang halal.

Dibalik kesenangan itu semua, mereka tak sadar, ada sekelompok orang orang yang ingin merenggut hidup mereka, serta mengambil apa yang mereka miliki.

"Bagaimana, apakah persiapan kita sudah selesai ?" tanya pak kyai pada saiful.

"Insya allah, kami sudah siap untuk jihad fii sabillah yai" saiful menjawab dengan seteguh hati.
Kyai : "Apakah kalian yakin dengan semua ini ?"

"Yakin kyai" jawab saiful dan soim secara bersamaan.
Kyai : "Baiklah kalau begitu, semoga kalian mendapat balesan dari apa yang kalian lakukan pada hari ini, semoga allah membalas nya di akhirat nanti"

Soim dan Saiful : "Amiin"
Kyai : "Hati hati anakku, semoga kalian selamat sampai tujuan"

Soim dan Saiful : "Enggeh yai"
Kyai tak tega melihat santri yang ia anggap sebagai anaknya sendiri melakukan amanah yang amat begitu besar.

"Seandainya tugas ini tidak kuserahkan pada kalian berdua, percayalah, salah satu di antara kalian akan kunikahkan dengan putriku azizah" batin pak kyai setelah kepergian mereka berdua.

Dengan menggunakan mobil, mereka berdua  berangkat untuk melakukan amanah yang mereka yakini akan kebenarannya, JIHAD FII SABILILLAH

Apakah tugas mereka berdua akan berhasil, atau malah gagal ? entahlah, nantikan saja episode selanjutnya ya

(Bersambung)

-----
Kembali Ke :
Episode 1 : Kisah cinta seorang santri pesantren

Episode 2 : Terorisme Pesantren

Episode 4 : Jalan sang santri

Lanjut Ke :
Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri

Oh iya kawan, maafkan admin jika sobat menunggu lama untuk episode ini, karena admin juga punya kesibukan sendiri, sekali lagi admin minta maaf, jika ada ada yang perlu di pertanyakan jangan sungkan sungkan untuk bertanya melalui form hubungi kami, atau bisa melalui komentar di bawah ini.

Dan jika sobat ingin berkonstribusi dalam pengembangan website ini, sobat bisa berbagi kisah dengan kami.

Itulah episode ke 6 dari cinta seorang santri, jika ada penambahan atau apa saja mohon untuk berkomentar di bawah ini ya :)

Friday, 21 April 2017

Aku Santri, Bukan Teroris

Santri Bukan Teroris
Bincang Santri - Ahmad hanya bisa pasrah atas apa yang terjadi pada dirinya, sesekali melihat ke depan,  melihat kedua teman santrinya yang merupakan teroris, penjahat yang paling di benci oleh kalangan masyarakat, ahmad menunduk kemudian berkata "aku santri bukan teroris (seperti mereka)".

santri bukan teroris

"Hai anakku, bagaimana kabarmu" suara tua penuh dengan wibawa terlontar oleh orang yang menjadi panutan ahmad.

"Kenapa kau melakukan ini, ? kau adalah anak yang pintar, aku suka padamu" sang kyai melanjutkan ucapannya.

"Aku takkan membunuh mu, ketahuilah enkau sudah ku anggap seperti anak ku sendiri, dan akupun tau bahwa kau juga mencintai azizah putriku"

JLEBB

"Bagaimana munkin sang kyai tau kalau aku mencintai putrinya" ahmad berucap dalam hati

Kyai : "Tak perlu kaget seperti itu, kalau tidak seperti ini jadinya, aku pasti akan menikahkanmu dengan putriku, tapi takdir berkendak lain, coba tirulah teman temanmu ini" sambil menunjuk ke saiful dan soim.

Ahmad menatap kedua temannya itu, soim dan saiful hanya bisa tersenyum melihat ahmad.

Saiful : "Kalau tidak atas suruhan kyai, aku pasti akan membunuhmu kawan"

Ahmad tertunduk kembali mendengarnya

Kyai : "Wahai anakku, pulanglah kerumah, hilangkanlah kejadian ini, kalau tidak, akan banyak korban di keluargamu"

Mendengar kalimat keluarganya, rasa takut ahmad muncul kembali.

Setelah sang kyai berucap seperti itu, kedua mobil tersebut pergi meninggalkan ahmad.

Tanpa sadar tetesan air mata ahmad keluar, ia masih tak percaya apa yang terjadi barusan, pembunahan di depan mata, kyai dan kedua temannya adalah teroris, sungguh malam yang penuh duka dan penghianatan.

Sudah satu jam lamanya ahmad berdiam diri di tempat kejadian perkara, tak ada seorang pun yang melihatnya, kabut malam semakin memutih, untuk memandang kedepan saja susah bukan main.

Selang beberapa menit, ada cahaya yang sangat terang, cahaya dari sebuah mobil, bukan 1 namun beberapa mobil, ditambah suara khas dari mobil tersebut, membuat malam semakin gaduh.

Mobil polisi itu berhenti tepat di depan ahmad, ada beberapa oknum yang keluar, dan menghampiri ahmad.

"Siapa kauuu !!" bentak salah seorang polisi.

"Kenapa pak jenderal bisa seperti ini, apa yang terjadi disini !!! " bentakan masih terus berlanjut, ahmad mulai ketakutan, ahmad tak menjawab pertanyaan dari polisi tersebut.

Ahmad memandang kedepan, bertatapan dengan polisi yang dikenalnya.

Polisi : "Bukannya kamu santri yang tadi ?, kenapa pak jenderal bisa seperti ini, kamu harus ikut aku kekantor".

Ahmad masih tak menjawab, ia hanya tertunduk tanpa berkata apapun.

Ahmad diseret secara paksa oleh polisi polisi itu, dibawa menuju kantor untuk dimintai keterangan.

Mayat pak jenderal dan ahmad ditempatkan di mobil yang berbeda, mobil pun akhirnya berangkat meninggalkan mobil serta darah pak jenderal.

Dalam mobil ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati ahmad, "kenapa polisi polisi ini tau keberadaan kami ?"

--------
Sebelum Pembunuhan Terjadi
--------

Pak jenderal sudah yakin bahwa ia takkan bisa mengalahkan para teroris itu, oleh karena itu akhirnya pak jenderal menekan sebuah tombol di mobil.

Tombol yang dapat mengirim sinyal keberadaan bahaya.

Yah namun sayang, pertolongan itu pun akhirnya terlambat.

--------

"Siapa pelakunya !!!"  suara keras disertai pukulan tangan menghantam ahmad.

"Cepat !!!" pukulan bertubi tubi masih terus belanjut tanpa menyisakan sedikit celah.

Meskipun diperlakukan seperti itu, ahmad hanya bisa terdiam tanpa berkata kata.

Meringis kesakitan takkan membuat pukulan itu berhenti, dan malah sebaliknya.

Bagaimanapun keadaanya, jika ahmad memberitahu pelakunya, niscaya keluarganya yang akan jadi korbannya.

"Masih tak mau bicara !!!"
"Kamu mau mati hah !!"

Umpatan umpatan dilontarkan oleh para polisi yang begitu jengkel dengan ahmad.

Wajah ahmad sudah tidak memperlihatkan ketempanannnya lagi.

Dari balik sel, tempat penghukuman terjadi, salah seorang polisi menghampiri.

"Sudah cukup, gundul dan mandikan dia, kemudian antarkan dia ke tempatku"

"Siap pak"

--------

"Tok tok tok" suara yang menandakan ada orang yang ingin masuk

"Masuk"

Orang dengan kepala plontos, di tambah dengan wajah yang kebiru biruan masuk kedalam sebuah ruangan.

"Duduk" polisi itu mempersilahkan ahmad untuk duduk

Polisi :  "Sebelum kamu berangkat dengan pak jenderal, beliau sudah menjelaskan semuanya padaku, tentang teroris itu dan rencana yang akan di lakukan besok oleh mereka"

Polisi : "Untuk menggagalkan rencana mereka aku butuh bantuanmu, nyawa masyarakat sekarang ada ditanganmu, aku tau kamu tidak bersalah, aku tau kamu bukan teroris, atau tau kalau kamu santri"

Pak polisi menghela napas panjang serta melanjutkan pembicaraanya.

Polisi : "Oleh karena itu, biarkan kami mengetahui siapa para teroris yang membunuh pak jenderal ?"

Mendengar kalimat terakhir, ahmad teringat dengan kyainya, teringat dengan janjinya, teringat keluarganya.

Kemudian ahmad tertunduk kembali tanpa menjawab pertanyaan pak polisi.

Sudah 10 menit lamanya ruangan itu terasa sunyi, sunyi oleh kebisuan mereka berdua.

Akankah ahmad memberitahu pelaku yang membunuh pak jenderal, dan bagaimana dengan janjinnya pada kyainya ?

[Bersambung]

--------- 

Kembali ke
Episode 1 : Kisah cinta seorang santri

Episode 2 : Terorisme pesantren

Episode 4 : Jalan sang santri

Lanjut ke
Episode 6 : Amanah sang kyai

Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri

Jika sobat menyukai cerita ini, dukung kami melalui komentar di bawah ini, agar kami bisa lebih semangat lagi dalam menggarap kisah cinta santri ini, terima kasih :)

Monday, 17 April 2017

Jalan Sang Santri

Sang Santri
Bincang Santri - "Cepat jelaskan !!, apa yang terjadi disini, bukannya kamu adalah santri yang tadi, apakah kamu bagian dari ini semua, kamu harus ikut aku kantor !!" pertanyaan tanpa henti di lontarkan oleh seorang polisi.

jalan santri

[Beberapa jam sebelumnya]

Ahmad diajak keluar menggunakan mobil oleh pak jendral, pergi ke tempat dimana pak jendral sering mendiskusikan masalahnya kepada teman temannya.

Hari mulai malam, sang fajar pagi sudah waktunya digantikan oleh sahabatnya, burung gagak menyuarakan teriakan khasnya.

Pak Jendral : "Sudah masuk waktu maghrib, kita sholat dulu di tempat itu" sambil menuju ke musholla yang ada di pinggiran jalan

Ahmad : "Baik pak"

Tanpa mereka sadari ada beberapa orang yang memantaunya dari kejauhan.

--------

Suasana di musholla yang begitu ramai, membuat pak jendral berpikir ulang untuk mendiskusikan masalahnya di tempat itu

Begitu pula dengan beberapa orang tadi, mereka tak berani mengambil langkah karena tempat yang begitu ramai oleh penduduk setempat.

--------

Setelah melaksanakan sholat maghrib, ahmad dan pak jendral melanjutkan perjalanannya, jalanan yang dilalui hanya di temani oleh beberapa tiang lampu yang meredup redup.

Pak Jendral : "Jadi apa yang ingin kamu bicarakan nak, melihat dari wajahmu, sepertinya ada keseriusan, dan nampaknya juga sangat penting"

Ahmad : "Begini pak, saya adalah santri dari pesantren itu, beberapa tahun saya mondok disana, namun baru kemaren saya menemui fakta mengerikan"

Pak jendral : "Fakta apa itu nak"
Ahmad : "Saya mengetahui bahwa pesantren saya itu adalah sarang teroris"

Mendengar kata teroris, wajah pak jendral terlihat tegang, kaget, namun itu hanya beberapa saat, sesekali mereka berdua saling pandang satu sama lain.

Pak Jendral : "Dari mana kau tau nak ?"
Ahmad : "Kemaren saya mendengar pembicaraan mengenai tempat yang akan menjadi sasaran terorisme"

Pak Jendral : "Dimana itu, lalu kau tau pelakunya ?"
Ahmad : "Di kota itu pak, salah satu pelakunya adalah kyai saya sendiri"

Ada rasa tak percaya setelah mendengar kata kyai, orang yang dimulaikan oleh ummat, orang yang menjadi panutan, kenapa harus bertindak seperti ini.

Ahmad hanya bisa menunduk pasrah, ada rasa salah dalam dirinya, kenapa ia harus melaporkan kyainya kepada aparat kepolisian

Melihat ahmad yang sepertinya menyesal dengan keadaan yang ada, lantas pak jendral berucap

Pak Jendral : "Saya percaya kamu, apa yang kamu lakukan sudah, kalau kamu tidak melaporkan, munkin ratusan orang akan mati, lalu kapan mereka akan beraksi"

Ahmad : "Besok pak"

Pak jendral : "Kita harus cepat cepat, kita akan menuju tempat dimana atasan dan teman saya berada"

Ahmad : "Iya pak"

Ahmad hanya bisa berdoa, semoga apa yang gurunya rencanakan akan menjadi gagal.

--------

Berjarak sekitar 10 meter dari belakang mobil yang di tumpangi oleh ahmad dan pak jendral, nampak 2 buah mobil beriringan berisikan 6 orang.

Setiap mobil di isi oleh 3 orang.

Didalamnya mereka ber enam sedang membicarakan sesuatu.

Teroris 1 : "Jarak menuju kota dari tempat ini berkisar 1 jam an, dan kita harus melewati hutan ini, waktu kita masih cukup, kita harus membereskan mereka hutan ini"

Teroris 2 : "Saya sejutu dengan apa yang kamu katakan, lebih cepat lebih baik, lagi pula di tempat seperti inilah seharusnya orang orang seperti itu layak mati"

Teroris 3 : "Benar, disini juga menguntungkan kita, tak ada siapa siapa disini selain pohon pohon"

Melalui telfon teroris 1 mengungkangkap rencana kepada teroris yang berada di mobil.

Teroris : "Baik, akan kami laksanakan sekarang"

--------

Pak jendral akhirnya mengetahui ada yang tidak beres dengan mobil mobil di belakangnya.

Para teroris menancapkan gas, mengikuti kecepatan mobil pak jendral, dan mulai menembaki ban belakang mobil.

Pak Jendral : "Kita harus berhenti, ban mobil sudah mobil bocor, kamu harus tenang, akan kuberaskan mereka semua, mereka munkin adalah komplotan teroris yang kamu bicarakan"

Ahmad ketakutan dengan keadaanya yang seperti ini, lebih lebih ahmad baru pertama kali ini mendegar suara tembakan tepat di depannya.

Ahmad hanya bisa berdoa semoga allah menyelamatkan hidup mereka berdua.

Pak jendral menghentikan mobil dan keluar dari dalam, dengan pistol yang ia pegang.

Tepat di depannya terparkir mobil yang menembaki mereka berdua.

Pak Jendral : "Siapa kalian ? !!"
Teroris 1 : "Saya adalah orang yang akan menghilangkan maksiat di bumi pertiwi ini"

Pak Jendral : "Apa yang kalian lakukan itu salah !!, lebih baik kalian menyerahkan diri"
Teroris 1 : "Buat apa? tak ada gunanya !!"

DOOOORR !!

Peluru tepat mengenai kepala seorang

Tembakan melesat keluar dari ujung pistol, di kejauhan nampak seorang yang mengenakan sarung menembak pak jendral menggunakan pistol jarak jauh.

Mendengar ada suara tembakan,  ahmad hanya bisa menunduk kebawah dengan tubuh bergemetaran,  apa yang terjadi di luar sana ? bagaimana nasib pak jendral ? kenapa aku tidak membantu? kenapa aku jadi penakut seperti ini ? aku harus keluar menolong pak jendral !!

Tak memperdulikan dirinya sendiri, ahmad pun keluar dari mobil.

Bukan tanah yang pertama kali ia injak, melainkan darah segar, darah seorang yang ia kenal.

Ahmad : "PAK JENDRAL !!"

Teroris 1 : "Jendralmu sudah dipanggil, hahaha dan kau akan segera menyusulnya"

Ahmad melihat ke arah depan, dan pada saat itu juga, keluarlah dari mobil, seorang yang ia kagumi, banggakan, serta menjadi panutan dalam hidupnya.

Ahmad : "Pak kyai" ahmad berkata lirih

Mereka berdua saling pandang, diikuti pula oleh keluarnya 2 orang yang begitu dekat dengan ahmad.

"Kang saiful, kang soim" ahmad tak percaya apa yang dilihatnya.

Dalam ketakutannya, ahmad menundukkan kepada seraya berdoa "Ya allah, lindungilah hambamu ini dari orang orang yang dzolim"

Bagaimana nasib ahmad ? apa yang akan di lakukan oleh pak kyai, saiful dan soim terhadap ahmad ? munkinkah ahmad akan selamat ? tunggu kelanjutannya ya :)

[Bersambung]

--------

Kembali ke
Episode 1 : Kisah cinta seorang santri

Episode 2 : Terorisme Pesantren

Episode 3 : Santri Teroris

Lanjut ke
Episode 5 : Aku santri bukan teroris

Episode 6 : Amanah sang kyai

Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri 

Jika anda menyukai cerita ini, dukung kami melalui komentar di bawah ini.

Saturday, 15 April 2017

Praduga Santri Teroris

Dugaan Santri
Bincang Santri  - Setelah kepergian ahmad dari pesantren, dia berencana untuk melaporkan semua kejadian ini kepada kepolisian, ahmad juga berpikir bahwa ada salah satu santri yang ada kaitannya dengan terorisme ini.

kantor polisi

"Aku harus cepat cepat, tak ada waktu lagi bagiku, kalau tidak, puluhan hingga ratusan orang jadi taruhannya"

Tanpa ahmad sadari, sejak kepergiannya dari pesantren, ada 2 orang yang sedang mengikutinya dari kejauhan.

"Ada yang tidak beres dengan tingkah laku ahmad, coba kau perhatikan dia" orang ini telah ketahui bernama saiful

"Iya ful, mau kemana dia pergi, kenapa harus pakek tas segala ? ada yang tidak beres ini, ayo kita laporkan hal ini kepada pak kyai dan pak joko kang" santri yang bernama soim menawarkan kepada saiful

Saiful : "Tidak usah, mending kita ikuti saja dia"
Soim : "Baik kang"

--------

Ahmad masih terus berjalan melewati desa desa, dia harus berjalan 10 Km agar bisa sampai ke jalan umum dan mencegat bus untuk melanjutkan perjalanan ke kantor polisi yang berada di kota.

Dalam perjalanannya ia masih saja terbayang bayang pak kyai, apakah ini semua dalang pak kyai ? apakah ada santri lainnya yang tau ? atau mereka pura pura tidak tau ?

Ahmad mencegat bus yang lewat, dia pun menaikinya.

Melihat ahmad naik bus, saiful dan soim meminjam sepeda motor pada temannya yang berada tak jauh dari jalan umum.

Soim : "Lihat kang, ahmadvmenaiki bus, ini pasti ada apa apanya, kita harus cepat"
Saiful : "Pinjam sepeda motor ke bejo, munkin sekarang dia ada dirumah"
Soim : "Baik kang, samean tunggu disini"

Soim meninggalkan saiful, pergi dengan tujuan meminjam sepeda motor kepada temannya, alhasil motor pun di dapatkannya.

Saiful dan soim mulai mengejar ketertinggalan mereka, untungnya, bus yang di naiki oleh ahmad nampak di depan mereka.

Bus berhenti tepat di kantor polisi, ahmad keluar dari bus dan masuk ke kantor polisi.

Melihat ahmad masuk ke kantor polisi, saiful dan soim semakin yakin bahwa ahmad telah mengetahui semuanya, dan berniat untuk menggagalkan rencana pak kyai.

Saiful : "Kita harus cepat pulang, kita harus melaporkan ini kepada semuanya"
Soim : "Setuju kang, kita harus cepat cepat"

--------

"Assalamualaikum" ahmad mengucapkan salam kepada salah satu anggot kepolisian
"Walaikum salam, bisa perkenalkan terlebih dahulu siapa anda dan ada keperluan apa?"
Polisi menjawab

Ahmad : "Saya santri dari pesantren X, saya ingin berbicara dengan polisi yang mempunyai jabatan tertinggi disini pak?"
Polisi : "Ada apa ?, mana surat izinnya?"

Ahmad : "Saya tidak punya pak"
Polisi : "Maaf, kami tidak bisa mempertemukam anda dengan atasan kami"

Ahmad : "Ini penting pak, saya harus bisa menemui atasan bapak"
Polisi : "Tidak bisa !!"

Ahmad : "Saya mohon pak, ini menyangkut masalah nyawa orang orang, saya hanya ingin menyampaikan kepada atasan bapak"

Melihat kecekcokan yang terjadi di dalam kantor, salah seorang polisi berbadan tegan dengan tiga bintang di bahunya mendatangi asal muasal percekcokan itu.

Jendral : "Ada apa ini ?"
Polisi : "Maaf pak, anak ini ingin bertemu bapak" sambil menunjuk ke arah ahmad

Jendral : "Ada apa kau ingin bertemu dengan saya"

Ahmad melihat sekilas pak polisi yang berpangkat jendral ini, ahmad melihat ada harapan di dalam pakaian yang beliau kena.

Ahmad : "Saya ingin membicarakan sesuatu pak"
Jendral : "Bicaralah"

Ahmad : "Maaf pak, saya ingin berbicara hanya dengan bapak saja"
Polisi : "Kurang sopan santun kau nak, lihatlah siapa yang kau ajak bicara ini"

Melihat keseriusan ahmad dalam bicara, pak jendral pun memenuhi permintaan ahmad.

Jendral : "Baiklah kalau begitu nak, ikut aku"
Ahmad : "Terima kasih pak"

--------

Dengan kecepatan 100km/jam, saiful dan soim dengan cepat sampai ke pondok pesantren, dan mereka pun langsung masuk ke ndalem kyai, dan untungnya saat itu ada azizah.

Saiful : "Maaf neng, bisa panggilkan pak kyai, ada hal penting soalnya"
Aziah : "Kenapa kang, kok kayak habis di kejar setan, tunggu sebentar yah, saya panggilkan"

Azizah memanggil ayahnya.

Dari dalam kamar, keluarlah pak kyai dan mengisyaratkan kepada azizah agar pergi dari tempat pembicaraan.

Pak kyai : "Apa apa ful ?"
Saiful : "Maaf yai, tadi saya melihat ahmad pergi mengenakan tas, apakah yai tau"

Pak kyai : "Tidak, dia tidak kesini sekali, ngapain dia"
Saiful : "Itulah yang kami bicarakan yai, tadi kami berdua melihat ahmad pergi, dan dia berhenti tepat di depan kantor polisi, saya yaqin bahwa ahmad mengetahui rencana kita"

Mendengar penuturan dari saiful, pak kyai tersentak kaget, bagaimana ahmad bisa tau, ? apakah ada salah seorang santrinya yang berkhianat ?

Pak kyai pun teringat pembicaraannya dengan pak joko yang berada di dapur ndalem

"Munkin itulah penyebabnya" pak kyai mulai mengangguk ngangguk

Melihat pak kyainya berkata seperti itu, saiful dan soim saling pandang.

Soim : "Apa yang mesti kita lakukan pak kyai?"
Saiful : "Kita harus cepat yai, kalau tidak rencana kita akan gagal"

Pak kyai : "Apa yang kalian katakan memang benar, kalau begitu, telfon anggota kita yang berada di di kota, suruh mereka untuk memantau kantor polisi tersebut"

"Dan kalian berdua ikut aku" pak kyai melanjutkan pembicaraannya

"Enggeh kyai" jawab mereka berdua secara kompak.

Apa yang dibicarakan oleh ahmad dan pak jendral ? lalu apa yang akan di lakukan oleh pak kyai dan ke dua santrinya tersebut ?

[Bersambung]

--------

Kembali Ke
Episode 1 : Kisah cinta seorang santri

Episode 2 : Terorisme pesantren

Lanjut Ke
Episode 4 : Jalan sang santri

Episode 5 : Aku santri bukan teroris

Episode 6 : Amanah sang kyai

Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri 

Tunggu saja kelanjutannya, jika ada penambahan atau apa saja terkait kisah ini, mohon untuk berkomentar di bawah ini.

Friday, 14 April 2017

Terorisme Pesantren

Pesantren Bukan Sarang Teroris
Bincang Santri - Seperti yang penulis katakan kemaren, penulis berjanji hari ini akan melanjutkan kisah cinta santri di pesantren, sedikit bocoran, episode kali ini akan membahas mengenai terorisme di pesantren.

masjid pesantren

Ahmad dengan cepat meninggalkan dapur, tanpa meninggalkan bukti bukti nyata, namun dibalik tirai kamar, 2 orang memperhatikan ahmad.

"Awasi santri itu"
"Siap pak"

--------

Ahmad tak percaya apa yang di dengarnya tadi, sebuah kata yang paling dia benci, kata yang hanya bisa membuat tangisan, sakit, dan juga kehilangan.

TERORISME


Apakah benar kyai nya merencanakan terorisme ? apa ia tidak salah dengar, namun pembicaraan itu masih terus tergiang di telinganya.

"3 hari kedepan ini kita harus mempersiapkannya, hancurkan tempat tempat maksiat itu beserta orang orangnya, kalau perlu ratakan dengan tananh"
"Enggeh kyai"

Ahmad mulai mengingat pembicaraan kyainya, ada rasa kecewa terhadap orang yang dia banggakan itu, orang tua yang dia anggap seperti ayahnya sendiri, orang yang menjadi referensi kehidupannya.

Namun, semua itu hilang saat beliau mengucapkan kata :

TERORISME

Ahmad hanya bisa merenung di masjid, mengadu kepada allah, apa yang mesti dia lakukan dikala seperti ini.

Apakah harus mengikuti kyainya, atau malah melawan ?

Kyainya memang keras, benci dengan kemaksiatan dan juga orangnya, namun ahmad sadar islam itu rahmatan lil alamin.

--------

2 hari sejak ahmad mendengar percapakan yang dilarang itu, ahmad sudah memantabkan hatinya, sudah teguh pada pendiriannya yang sekarang ini.

Dia akan memberitahukan perihal ini kepada polisi, ahmad tak ingin ada warga pribumi yang menjadi dampak dari perbuatan keji itu.

Namun sebelum meninggalkan pesantren, ahmad teringat pada wanita pujaanya, wanita yang menjadi putri pertama dari kyainya.

Ahmad berhenti, berbelok menuju dapur guna untuk bertemu dengan azizah putri sang kyai, kebetulan, di teras ndalem ada khodam (pembantu) kyai.

Ahmad : "Mba, boleh minta tolong, panggilkan neng azizah ?"
Khodam : "Ada apa ya kang ?"
Ahmad : "Bilang saja, ahmad ingin berbicara sesuatu"
Khodam : "Baik kang, tunggu sebentar"
Ahmad : "Syukron"

--------

Tok tok tok
Khodam : "Assalamualaikum neng"
Azizah : "Walaikum salam" azizah membukakan pintunya

Azizah : "Ada apa minah ?"
Khodam : "Kang ahmad ingin bertemu jenengan neng, katanya penting"

Detak jantung sang putri kyai itu mulai berirama, layaknya genderang perang, keringat pun mulai mengikuti nyanyian detak jantung

Ada rasa malu, dan juga senang mendengarnya, azizah hanya bisa terdiam sesaat ketika nama ahmad mulai terdengar.

"Kenapa kang ahmad memanggilku, ada apa gerangan" pikir azizah dalam hati.

Azizah: "Terima kasih sudah memberitahu, akan kuhampiri dia, biar aku sendiri saja"
Khodam : "Enggeh neng"

Azizah melangkahkan kakinya untuk menemui santri yang berani memanggilnya itu, saat membuka pintu, nampak ahmad mengenakan tas layaknya santri yang mau boyong.

--------

Ahmad masih terus berdiri menunggu kedatangan azizah, baru pertama kali ini ia berani memanggil azizah, kalau keadaannya tidak seperti ini, ia gak bakalan  berani untuk manggil azizah sang putri kyai.

"Assalamualaikum mas, " ahmad kaget,
"Walaikum salam neng"

"Ada apa mas manggil saya? " dengan wajah tertunduk
"Tidak apa apa, anuu" ahmad juga menundukkan kepalanya

"Kenapa mas ?"
"Ada yang ingin kubicarakan neng"

Kedua insan itu masih terus saja menundukkan kepalanya masing masing, hanya ahmad yang sesekali menatap kedepan.

"Maaf jika ini lancang sekali, namun kalau ucapan ini tak dikeluarkan, akhirnya akan terasa sakit sendiri, maaf akun mencintaimu neng" ucap ahmad

Akhir kata yang begitu lirih, namun terdengar jelas oleh azizah, meskipun telinganya tertutup oleh kerudung.

Kalimat indah yang begitu ia impikan dari orang yang selalu ia doakan, sungguh indah sekali saat itu.

"Aku tak peduli enkau menolak ataupun tidak, bagiku, kalimat itu keluar dan terdengar olehmu itu sudah lebih dari cukup" lanjut ahmad

Azizah hanya terdiam, tak berani memandang ahmad, paham atu tidak, ke terdiaman azizah adalah syarat bahwa ia juga mencintai ahmad

Ahmad masih terus saja melanjutkan ucapannya

"Aku akan pergi dari sini, entah sampai kapan aku pun tak tau, setelah urusanku selesai aku akan menemui lagi, jika kita memang berjodoh, kita akan di pertemukan kembali oleh Allah SWT, jangan bersedih, aku akan kembali padamu, jagalah ini untukku"

Ahmad mengeluarkan al quran dari tasnya, memberikan ummul kitab tersebut kepada azizah.

Azizah mengangguk, memberanikan diri untuk menatap wajah ahmad, air mata nampak disela pipi yang memulai memerah.

Ahmad tak sanggup melihat wanita yang di cintainya dengan keadaan seperti itu.

"Izinkan saya pamit, assalamualaikum" ucap ahmad tanpa melihat azizah

Azizah hanya bisa melihat dari kejauhan, langkah kaki kepergian ahmad, hanya tangisan yang menyertai diri azizah

"Kenapa mas, kenapa engkau pergi, ada apa" azizah berteriak dalam hati seraya memeluk erat ummul kitab yang di berikan oleh ahmad

--------

Kemana ahmad pergi ? bagaimana dengan azizah ? lantas apa yang akan terjadi dengan rencana sang kyai ?

Nantikan kelanjutannya hanya di hanya di sini :)

Kembali Ke :
Episode 1 : Kisah cinta seorang santri

Lanjut Ke :
Episode 3 : Praduga santri teroris

Episode 4 : Jalan sang santri

Episode 5 : Aku santri bukan teroris

Episode 6 : Amanah sang kyai

Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri 

Perlu di ingat kembali, jika persepsi sobat terhadap pesantren berubah karena tulisan, penulis tidak bertanggung jawab, tulisan ini hanya kisah fiktif belaka guna mengasah tulisan.

Dan satu hal lagi sobat, pesantren bukanlah tempat teroris tapi tempatnya santri, jika ada teroris yang mengatasnamakan pesantren, itu hanya akal akalan teroris untuk merusak pendidikan tertua di indonesia tersebut.

Jika ada penambahan terkait kisah ini, mohon untuk berkomentar di bawah ini.

Thursday, 13 April 2017

Kisah Cinta Seorang Santri Pesantren

Cerita Cinta Santri
Bincang Santri - Sebelum kami menuliskan kisah cinta santri di pondok pesantren ini, kami berharap, sobat tidak merubah pandangan terhadap pesantren, karena tulisan ini hanya sebagai hiburan belaka dan tidak bedasarkan dari kisah nyata.

cerpen santri jatuh cinta

Berikut kisah cinta santrinya


"Jika kita memang berjodoh, kita akan di pertemukan kembali oleh Allah SWT, jangan bersedih, aku akan kembali padamu, jagalah ini untukku"  salah seorang santri memberikan ummul kitab kepada santriwati yang begitu penting baginya.

Kembali beberapa hari sebelum percakapan di atas terjadi

Seperti biasanya, pagi itu para santri sedang melaksanakan piket teras harian, menyapu teras, membuang sampah dan lain sebagainya.

"Kang, ayo kita ngambil nasi di dapur"  santri yang bernama aziz mengajak temannya untuk mengambil nasi di dapur
"Sekarang waktu kita piket ya ?"

"Iya kang"
"Ya sudah ayo kita berangkat"

--------

Pondok pesantren yang bertempat di daerah terpencil itu, hanya di penuhi oleh puluhan santri saja, karena sedikitnya santri yang mondok, pengasuh pesantren dapat dengan mudah mengetahui kondisi santri satu persatu.

Warga sekitar terkadang menyebutnya dengan sebutan padepokan, karena sedikitnya santri yang mondok disana.

Namun semua itu tak dapat merubah hormat warga kepada pengasuh pesantren itu.

Munkin karena akses menuju padepokan itulah yang membuat begitu sedikitnya santri yang mondok disana.

Pesantren itu berada di kedalaman hutan, jauh dari lingkungan desa dan warga sekitar.

Namun setiap paginya selalu ada santri  yang pergi kepasar untuk membeli keperluan dapur.

--------

Kedua santri tadi sudah sampai  di dapur guna mengambil nasi dan lauk, dapur yang tepat berada di belakang ndalem (sebutan untuk rumah kyai), membuat kedua santri tersebut berjalan secara perlahan lahan, karena takut langkah kaki mereka bisa mengganggu orang orang ndalem.

Tiba tiba

Muncul wanita muda mengenakan kerudung hijau, warna hijau itu seperti daun yang jatuh dari atas langit, gerakan kakinya yang menawan membuat kedua santri tersebut diam dengan kepala menghadap kebawah.

Wanita itu meninggalkan keduanya, pergi ke tempat dimana kedua santri tersebut tak mengetahuinya.

Bayangan kerudung hijau masih terus menghantui salah satu dari kedua santri tersebut.

"Kang ahmad, neng sudah pergi, baju samean kok basah semua, haayoo ada apa" aziz menggoda temannya yang bernama ahmad
"Eeh, iya, pantesan kok terasa panas disini"

"Panas cuaca atau panas hati" aziz masih terus menggoda ahmad
"Ah, kamu ada ada saja, ayo kita pulang, teman teman munkin sedang menunggu kita" ahmad mengalihkan pembicaraan

--------

Dalam kepulangannya, ahmad masih terus terbayang bayang wanita tadi, wanita yang begitu penting dalam hidupnya, namun ahmad sadar bahwa wanita itu tak pantas didapatkannya.

Banyak dari kalangan santriwari yang suka terhadap ahmad, karena wajah tampan yang ia punya, dan juga kepintaran yang ia miliki di atas rata rata.

Namun, tak ada santriwati yang dapat memikat hati seorang ahmad.

Hanya kepada wanita tadi hati ahmad terbuka, tapi lagi lagi rasa minder itu masih terus saja menghantui hati ahmad.

--------

Lelaki tua muncul dari kamar, rambutnya yang kian memutih membuat orang yang pertama kali melihatnya akan mengira bahwa lelaki tersebut berumur 45 tahun.

"Nduuuk"
"Daleeem bah"

Wanita muda menghampiri lelaki tua itu

"Kamu sekarang kepasar ya nduk, temeni minah beli keperluan dapur"
"Enggeh bah"

"Hati hati ya nduk"
"Enggeh bah"

Wanita tadi mencium tangan ayahnya, sebagai rasa hormat dan cintanya kepada beliau

Wanita yang diketahui bernama azizah itu keluar dari rumahnya, namun ia tak percaya apa yang dilihatnya.

Seorang pemuda yang selalu menghiasi doanya, pemuda yang selalu ada dipikirannya, dan pemuda yang selalu ia semogakan.

Hanya beberapa detik azizah bertatap muka dengan santri itu, sebagai ungkapan rasa malunya, azizah hanya bisa menundukkan wajahnya serta pergi meninggalkan santri tersebut.

--------
Ahmad : "Masya allah, aku lupa sesuatu"
Aziz : "Ada apa kang ahmad"

Ahmad : "Jam pemberian orang tua ketinggalan di dapur tadi, saya takut hilang, saya ambil dulu ya"
Aziz : "Perlu di temenin kang ?
Ahmad : "Tidak usah"
Aziz : "Ya sudah kang"

Setelah mengetahui jamnya yang tertinggal di dapur, ahmad lekas menyelesaikan sarapan paginya.

Sesampainya di dapur, tanpa sengaja ahmad mendengar suatu pembicaraan yang pantang ia dengar.

Jarak antara dapur dan ndalem kyai yang begitu dekat, membuat pembicaraan tersebut terdengar sangat jelas.

Ahmad sudah terlanjur mendengarnya, ada rasa tidak percaya terhadap apa yang ia dengar, seketika itu ahmad mempercepat langkah kakinya guna mengambil jam yang tertinggal.

"Bruaaak"

Seekor kucing menjatuhkan panci, bersamaan dengan itu, ada suara yang tak asing di telinga ahmad.

Apa yang didengarkan oleh ahmad ? lalu siapa wanita muda tadi ? semua akan terungkap di episode ke 2

[Bersambung]

--------

Lanjut Ke
Episode 2 : Terorisme pesantren

Episode 3 : Praduga santri teroris

Episode 4 : Jalan sang santri

Episode 5 : Aku santri bukan teroris

Episode 6 : Amanah sang kyai

Episode 7 : Rencana santri teroris

Episode 8 : Temu santri

Itulah kisah cinta seorang santri di pondok pesantren, tunggu episode selanjutnya, jika ada yang ingin ditambahkan terkait cerita ini, mohon untuk berkomentar di bawah ini :)

Tuesday, 7 March 2017

Tinggal Kenangan

Tinggal Kenangan
Bincang Santri - Kaca bus menyisakan sedikit embun bukti hujan telah reda, begitu pula dengan mereka berdua, setelah meninggalkan pondok pesantren hanya berjuta juta kenangan yang akan selalu mereka kenang.

tinggal kenangan

Sudah satu jam lamanya mereka menaiki bus jurusan jember - pasuruan, mereka berdua duduk berdampingan di kursi belakang, agar bisa lebih leluasa memandang ciptaan yang maha kuasa.

Selama di bus, mereka berdua terdiam dalam dunia imajinasinya sendiri sendiri, hasyim teringat akan desanya, sudah 5 tahun hasyim tidak pernah pulang ke rumahnya, bagaimana keadaan desanya saat ini? apakah masih seperti dahulu atau malah sebaliknya?

Apakah rumah itu masih ada beserta orang orangnya? ataukah sudah pindah ke lain tempat?

Begitu banyak pikiran yang melanda hasyim, karena beberapa alasan, hasyim tidak pernah pulang kerumah, meskipun pada saat liburan pondok pesantren.

Salah satunya yang mendominan adalah hasyim juga termasuk khodam pak yai, jadi kalau ada apa apa, hasyimlah yang di panggil oleh pak yai, seperti menemani pak yai dalam sebuah perjalan.

Bagi santri, menjadi khodam pak kyai adalah sebuah kehormatan, karena bisa dekat para ulama, bukan hanya dekat saja, tapi sebagai orang yang membantu apa saja yang di perlukan oleh pak kyai.

Oleh karena itu, tak sembarang orang yang bisa menjadi khodam pak yai, karena menjadi khodam mempunyai tanggung jawab besar.

Meskipun begitu, dampak menjadi khodam juga tak kalah hebatnya, biasanya orang yang menjadi khodam, ketika keluar dari pondok pesantren, segala urusannya akan dimudahkan oleh allah.

Bus berhenti tepat di sebuah gapura bertuliskan desa kemangi, desa yang mayoritas penduduknya petani daun kemangi, daun wangi yang biasanya dijadikan lalapan ketika mau makan disertai dengan sambal (eeemm)

Disamping gapura terdapat sebuah pos, tempat dimana penduduk desa berjaga di kala malam.

Inilah yang menjadi perbedaan antara kota dan desa, kota menyewakan orang untuk menjaga desanya (komplek) atau biasa dikenal dengan sebutan satpam.

Berbeda dengan keadaan desa, mereka tak para penduduk desa membuat jadwal tersendiri untuk menjaga keamanan desa.

Pos tersebut tampak sepi, mengingat jam menunjukkan pukul 16.40, biasanya para pemuda desa berkumpul di pos tersebut setelah melaksanakan sholat maghrib

Yazid dan hasyim berjalan memasuki gapura itu, didepannya nampak hamparan sawah daun kemangi yang enak aromanya.

Disampingnya juga terdapat sebuah lahan luas namun tak ada daun kemanginya sama sekali

Hasyim masih ingat, dulu ketika dia masih sepi dari dosa, diwaktu seperti ini, dia masih bermain bola di lahan tersebut.

Meskipun hari mulai gelap, nampak hasyim kecil masih terus bermain bola, tak ada yang dapat membuatnya berhenti, kecuali satu, teriakan dari ibunya.

Syiiim, Hasyim cepat pulang, ibu itu memegang ranting yang dia dapatkan dalam perjalanan menjemput si hasyim kecil

Cepat pulang, sudah mau maghrib kata kata itu masih tergiang di telinga hasyim.

Hasyim mengingat ngingat kejadian itu, semua sedikit berubah, lahan tersebut sekarang sudah ada gawangnya, berbeda dengan hasyim di waktu kecil, dimana ia membuat gawang dari sebongkah batu.

Ya, semua pasti berubah, tak ada yang kekal di dunia ini kecuali yang maha esa.

Hasyim dan yazid masih terus berjalan, berjarak 300 meter dari lapangan, nampak sebuah musholla

Hasyim : Zid, kita berhenti dahulu

Yazid : Kenapa syim

Hasyim : Kamu udah sholat?

Yazid : Belum syim, nanggung nih, sekalian di rumah

Hasyim : Sholat kok di tunda tunda, sudah hampir maghrib, malah sholat kita jadinya makruh, ayo sholat

Yazid : Iya iya (dengan muka cemberut, karena berbeda pikiran)

Hasyim dan yazid berhenti di musholla itu dan melaksanakan sholat asyar berjamaah


Setelah selesai sholat, mereka melanjutkan perjalanan, munkin jarak antara musholla dengan rumah mereka berdua sekitar perjalan 10 menit.

Hasyim dan yazid masih terus berjalan, sesekali ada petani yang menyapa

Petani : Udah pulang ya nak?

Yazid : iya pak, saya pamit dulu ya pak

Petani : iya nak

Petani itu membawa seranjang daun kemangi, nampaknya dia telah memanen hasil yang telah ia tabur.

Perjalanan masih terus berlanjut, mereka berdua sesekali menengok samping kanan kiri, siapa tau ada teman atau keluargnya di situ.

Di depan mereka, menjorok ke sebelah kanan, nampak sebuah rumah megah dibanding kan rumah lainnya.

Tepat di gerbangnya terdapat semacam tulisan, Kepala Desa kemangi

Itulah rumah kepala desa yang megah, selalu saja, rumah orang orang yang bekerja di bawah pemerintah selalu besar rumahnya, berapa gaji yang mereka terima? entahlah hanya allah yang tau

Hasyim dan yazid mendekati rumah tersebut, didepan rumah tersebut ada sebuah pohon "keres", mereka berdua mengambil buahnya.

Mereka berdua ingat, sesekali sebelum pulang dari bermain bola, layaknya sakta, mereka berdua berhenti untuk mengambil buah keres dari rumah pak kades.

Jika mereka ketahuan, sudah pasti pak kades akan marah, pernah mereka ketahuan mengambil buah tersebut

Alhasil, pak kades marah kepada mereka, tapi namanya juga anak kecil, gesit dan lincah, mereka berdua pun tak jadi tertangkap

Ternyata pak kades masih belum tergantikan hingga saat ini, entah apa penyebabnya tapi rentang 15 tahun, bukanlah waktu yang sedikit.

Hasyim sesekali menoleh ke rumah tersebut, siapa tau ada penghuninya lewat.

Kreeeek,suara pintu terbuka, nampak seorang wanita berusia 20 tahunan sedang membuka pintu.

Wajah cantiknya bagaikan rembulan di malam hari, kulitnya putih seputih awan, dia memakai krudung warna biru selaras dengan kulit putihnya, orang mengira wanita itu seperti langitan yang begitu indah.

Siapapun yang memandang takkan pernah insya allah tak akan berpaling darinya.

Siapapun yang akan memandang akan terasa nyaman melihatnya

Seperti halnya hasyim, denyut nadinya bertambah cepat seperti bertemu setan, padahal apa yang ia lihat adalah seorang gadis kembang desa.

Yazid : Syim lihat apa kau ?

Hasyim tak menoleh dari panggilan yazid, dia masih terpana dengan wanita itu.

Yazid : Syim !!

Hasyim : Apa zid, ngagetin orang aja

Yazid : Kamu lihat apa

Hasyim : Lihat itu (sambil menunjuk wanita tadi)

Yazid : Pantesan, jangan berkedip syim, nanti dosa kau.

Hasyim : Sialan kau zid

Mereka berdua hanyut dalam pandangan wanita yang hilang memasuki rumah, namun saat itu mereka berdua di kagetkan oleh seorang wanita lainnya.

Kembali Ke :

Episode 1 : Benih Cinta Pesantren

(Bersambung)

Jika cerita ini bagus mohon untuk berkomentar dan penulis akan terus membuatnya

Friday, 3 March 2017

Benih Cinta Dari Pesantren

Benih Cinta Dari Pesantren
Bincang Santri - Pagi itu adalah hal yang bersejarah bagi Hasyim dan Yazid, sudah 10 tahun mereka berdua menetap di penjara suci itu, dan sudah berkali kali mereka izin boyong, namun oleh pak kyai tidak di izinkan.

benih cinta dari pesantren

Sebagai santri mereka harus tetap patuh kepada kyainya, kyai bilang A santri pun harus A.

Itulah yang dirasakan oleh mereka berdua selama 10 tahun, dan akhirnya 10 tahun ini akan mereka tanggung jawabkan di kehidupan bermasyarat.

Jember 20, Januari 2001 adalah hari dimana mereka berdua akan keluar dari penjara suci setelah mendapatkan restu dari kyainya

Hasyim seorang dengan perawakan tinggi dengan kulit sawo matang khas suku jawa, baik dari ayah maupun ibunya asli suku pribumi jawa.

Dengan wajah yang penuh beribawa membuat nilai tersendiri baginya, siapapun yang memandangnya akan mengira dia adalah anak yang berumur 27 tahun padahal umur hasyim adalah 22 tahun.

Wajah tuanya tak membuatnya jelek di pandang, diantara teman temannya hasyim termasuk orang  yang tampan.

Berbeda sekali dengan Yazid, dengan tinggi sekitar 150cm membuat yazid menjadi orang terpendek diantara teman temannya

Kulitnya yang putih dan halus disertai mata sipit layaknya kaum china, membuat orang yang melihatnya pertama kali akan mengira dia adalah keturanan tionghoa

Padahal tak ada nenek moyangnya yang berasal dari kaum itu, entah kenapa perawakan yazid seperti orang irang tionghoa.

Karena banyaknya orang pribumi yang tak menyukai kaum tersebut, pernah suatu ketika yazid di pandang oleh orang orang yang tak di kenalnya dengan pandangan sinis.

Yazid geram jika diperlakukan seperti itu, tapi terkadang yazid juga merasa prihatin kepada kaum minoritas itu

Yazid : Begini ya rasanya jadi kaum minoritas

Hasyim : Sudahlah zid, kamu jangan mengeluh terus, syukuri apa aja yang ada, toh kamu bukan bagian dari mereka

Yazid : Kamu enak yang gak ngerasain, pengen rasanya nyukil mata orang orang itu

Hasyim : Kamu tuh harusnya bangga, diantara kita cuman kamu yang punya mata sharingan kayak sasuke (sambil berlari)

Yazid : Sialan kau syim

Yazid mengingat ngingat kejadian dulu, hanya hasyimlah yang selalu berada disampingnya di kala susah maupun senang, mereka berdua selalu bersama sama, baik itu makan tidur maupun mandi XD

Allahu akbar, Allahu akbar

Suara kumandang adzan  dhuhur dari masjid pesantren at tholibin, menjadi suara terakhir mereka mendengarnya, suara itu seakan akan mengajak mereka untuk bertamu di masjid persantren tersebut.

Yazid : Sudah dhuhur nih, sebelum pulang kita jamaah dulu trus salaman ke anak anak

Hasyim : Iya syim

Mereka berdua sholat berjamaah bersama sama, yazid sebagai imam mengakhiri sholatnya dengan salam.

Yazid : Ya allah, hari ini kami berdua akan keluar dari pesantren, bukan berarti kami menutup untuk mencari ridhomu, bimbinglah kami selama berada di kehidupan luar, hanya kepadamulah kami meminta dan memohon, jagalah kami dari jeleknya dunia , amiin.

Hasyim : Amiin

Mereka berdua hendak menuju kamar 3B, kamar itulah yang menjadi saksi selama mereka mencari ilmu di pondok pesantren

Cat pintu yang layak di ganti dengan cat baru, akan menjadi kenangan yang bagi mereka di kala mereka akan bertamu di pesantren

Assalamualaikum, mereka berdua mengucapkan salam.

Walaikum salam, orang orang didalam kamar menjawabnya

Zid, syim beneran kalian jadi boyong ? pertanyaan itulah yang selalu ditanyakan oleh teman temannya.

Sebagai santri yang hidup bersama sama, mereka dengan wajah nesu menjawab pertanyaan temannya.

Maaf ya teman teman, karena banyaknya alasan, akhirnya kami memustuskan untuk boyong, dan alhamdulillah kami sudah mendapat izin maaf ya kawan, yazid menjawab sebagai perwakilan

Trus yang akan mengatur kami siapa nantinya kang hasyim, salah seorang anggota kamar bertanya kepada hasyim

Hasyim memang di pasrahi oleh pihak pesantren sebagai ketua kamar 3B.

Hasyim : Banyak kok yang akan menjadi penggantinya, dan kalian kan sudah besar besar jadi gak perlu nunggu di ataur terlebih dahulu.

Banyak teman sekamar yang menyayangkan akan kepergian mereka berdua, mereka berdua dikelan oleh teman sekamar sebagai panutan mereka.

Jika kedapatan anggota kamar yang melakukan kesalahan, salah satunya di antara mereka pasti mengingatkan.

Hari itu adalah hari yang amat menyedihkan, hasyim dan yazid akan berpisah dengan teman temannya, dilain pihak ada orang orang yang menunggu kedangan mereka berdua.

Setelah bercengkrama dengan teman temannya mereka berdua bersiap siap untuk pamit.

Yazid : Syim, kitab sudah di bereskan semua?

Hasyim : Sudah, semua sudah beres tinggal ini yang nanti akan selalu kubawa (sambil menunjukkan nadhom Alfiyah kepada yazid)

Yazid : Ya udah kalau begitu, kita berangkat udah sore soalnya.

Hasyim : Kami berdua pamit ya kawan, jika ada waktu kami berdua pasti akan mampir kesini, saling jaga diri ya, salam buat teman teman, Assalamualaikum

Walaikum salam, jawab mereka secara serentak

Perpisahan itu meninggalakan tetesan air mata dari salah satu anggota kamar, inilah kehidupan kalau tak ingin berpisah jangan pernah bertemu.

Pukul 14.00

Langit tak sepanas seperti biasanya, awan awan hitam mulai menutupi daerah itu.

Yazid : Ayo syim, nanti keburu hujan.

Hasyim : Iya

Mereka berdua berlari lari kecil ke arah pintu gerbang utama, mereka melihat sudah melihat ada salah satu bus yang berhenti.

Mereka berlari, dan berlari.

Setibanya di pintu gerbang yang bertuliskan pondok pesantren At Tholibin jember, mereka berhenti, tempat inilah mereka berdua berasal, berasal mencari ilmu untuk mencaei ridho allah.

Kenangan indah itu akan selalu terkenang di hati mereka berdua, ya sampai kapanpun akan selalu terkenang.

Mereka melangkahkan kaki ke bus tersebut di sertai hujan turun dengan derasnya, layaknya menangisi atas kepergian mereka berdua.

Kenapa mereka boyong ? Kenapa Hasyim berada di bus yang sama dengan yazid ? ikuti kisahnya yang masih menjadi misteri

Lanjut ke :

Episode 2 : Tinggal kenangan

Itulah Benih cinta dari pesantren, tetap stay ya agar admin bisa membuat serial keduanya :)